TOKOMINICON.COM – Langit Indonesia akan menghadirkan gerhana bulan total pada 3 Maret 2026, bertepatan dengan Bulan Ramadan. Fenomena ini bisa dinikmati langsung tanpa alat khusus.
Gerhana bulan terjadi ketika cahaya Matahari ke Bulan tertutup bayangan Bumi. Posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir segaris.
Peristiwa ini hanya mungkin saat fase purnama. Namun tidak setiap purnama memunculkan gerhana karena kemiringan orbit Bulan sekitar lima derajat.
Kemiringan itu membuat ketiganya jarang benar-benar sejajar. Itulah sebabnya gerhana bulan total tidak hadir setiap bulan dan tergolong jarang.
Momen ini selalu menarik perhatian publik karena langit tampak berbeda dari biasanya. Bulan perlahan meredup lalu berubah warna ketika memasuki fase total.
Di fase total, Bulan tidak sepenuhnya gelap. Warna kemerahan muncul akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi.
Fenomena tersebut sering disebut blood moon oleh sebagian orang. Warna merahnya memberi kesan dramatis di tengah malam Ramadan.
Bagi kamu yang ingin menyaksikan, catat waktu terjadinya gerhana. Setiap fase berlangsung bertahap dan bisa diamati dari wilayah Indonesia.
Awal parsial:
- 16.50 WIB
- 17.50 WITA
- 18.50 WIT
Awal totalitas:
- 18.04 WIB
- 19.04 WITA
- 20.04 WIT
Puncak gerhana:
- 18.34 WIB
- 19.34 WITA
- 20.34 WIT
Akhir totalitas:
- 19.02 WIB
- 20.02 WITA
- 21.02 WIT
Akhir parsial:
- 20.17 WIB
- 21.17 WITA
- 22.17 WIT
Pada fase parsial awal, bayangan Bumi mulai menutupi sisi Bulan. Perlahan permukaannya terlihat seperti tergerus gelap.
Saat memasuki totalitas, seluruh wajah Bulan berada dalam bayangan umbra Bumi. Di momen inilah warna kemerahan tampak jelas.
Puncak gerhana menjadi waktu paling dinanti. Bulan terlihat paling gelap dengan nuansa merah yang lebih tegas.
Setelah itu, Bulan perlahan keluar dari bayangan inti Bumi. Cahaya terang kembali muncul sedikit demi sedikit.
Kamu tidak memerlukan kacamata khusus untuk menyaksikan gerhana bulan. Fenomena ini aman dilihat dengan mata telanjang.
Jika ingin detail lebih jelas, gunakan teropong atau teleskop sederhana. Alat bantu optik membuat tekstur permukaan Bulan terlihat lebih tajam.
Ponsel dengan kamera mumpuni juga bisa dipakai mengabadikan momen. Pastikan langit cerah dan minim polusi cahaya agar hasilnya optimal.
Carilah lokasi terbuka seperti halaman rumah atau lapangan. Hindari gedung tinggi dan pepohonan yang menghalangi pandangan ke arah timur.
Karena berlangsung saat Ramadan, momen ini bisa jadi pengalaman spiritual tersendiri. Banyak orang memanfaatkannya untuk refleksi dan pengamatan ilmiah sederhana.
Fenomena langit seperti ini mengingatkan kita pada keteraturan alam semesta. Setiap gerak benda langit berlangsung presisi sesuai hukum gravitasi.
Meski jarang, gerhana bulan total selalu bisa diprediksi para astronom. Perhitungan orbit memungkinkan jadwalnya diketahui jauh hari.
Jadi, siapkan waktumu dan ajak keluarga menyaksikan bersama. Jangan lewatkan kesempatan melihat Bulan berubah rupa di langit Indonesia.