TOKOMINICON.COM – Sahur saat Bulan Ramadan menjadi momen penting yang tak sekadar soal mengisi perut.
Aktivitas dini hari ini merupakan bagian ibadah yang diawali dengan niat tulus dan doa yang benar, agar puasa dapat dijalani dengan mantap dan berkah.
Bagi yang mengikuti Mazhab Syafi’i, niat puasa disarankan dilakukan sebelum fajar, meski bisa juga dibaca saat malam menjelang sahur.
Lafal niatnya berbunyi: “Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala”, yang artinya seseorang berniat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa Ramadhan karena Allah Ta’ala.
Selain niat, membaca doa sebelum makan sahur memberikan berkah pada hidangan dan energi untuk menjalani aktivitas sepanjang hari.
Doa yang umum dibaca berbunyi: “Allahumma barik lana fima razaqtana waqina ‘adzaban-nar”, memohon keberkahan dari rezeki yang dikaruniakan Allah dan perlindungan dari siksa-Nya.
Sahur memiliki nilai istimewa dalam Islam. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya tidak melewatkan sahur, meski hanya minum seteguk air.
Selain pahala karena mengikuti sunnah, sahur membedakan ibadah puasa umat Islam dari kaum terdahulu dan menjadi sumber energi fisik yang mendukung ibadah.
Bangun sahur juga termasuk waktu mustajab untuk berdoa, sehingga kesempatan memohon ampunan dan hajat menjadi lebih terbuka.
Agar tubuh tetap bertenaga, pemilihan nutrisi sahur sangat penting.
Karbohidrat kompleks, seperti nasi merah, oatmeal, ubi jalar, atau roti gandum, dicerna perlahan sehingga energi dilepaskan secara bertahap.
Protein dari telur, ikan, dada ayam, atau tempe membantu menahan rasa lapar lebih lama.
Serat dari sayuran hijau dan buah-buahan tinggi air, seperti semangka atau brokoli, menjaga pencernaan tetap lancar dan cadangan cairan tubuh stabil.
Pola minum yang disarankan adalah 2-4-2: dua gelas saat berbuka, empat gelas sepanjang malam, dan dua gelas saat sahur.
Selain jenis makanan, cara makan juga memengaruhi kualitas puasa.
Menyelesaikan sahur mendekati waktu Subuh menjaga cadangan energi tetap optimal, sementara mengunyah makanan perlahan membantu otak mengirim sinyal kenyang lebih cepat.
Kebiasaan ini mencegah makan berlebihan dan meminimalkan gangguan pencernaan.
Dengan menyiapkan niat sahur yang benar, membaca doa, dan memperhatikan nutrisi serta pola makan, puasa menjadi lebih ringan dan bermakna.
Aktivitas harian tetap dapat dijalani dengan energi yang cukup, tubuh tetap sehat, dan hati terasa tenang karena ibadah dilakukan dengan kesungguhan.
Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menyiapkan diri secara spiritual dan fisik.
Sahur yang dijalani dengan kesadaran penuh menjadi titik awal puasa yang berkah, membantu umat Islam menjalani bulan suci dengan penuh manfaat dan kesehatan.
Semoga Ramadhan tahun ini memberi keberkahan, kesehatan, dan ketenangan bagi setiap langkah kita.