Senegal Juara Piala Afrika 2025, Final Ricuh, Penalti Gagal, Gol Datang Paling Akhir

TOKOMINICON.COM – Senegal akhirnya berdiri sebagai kampiun Piala Afrika 2025 menag 1-10 setelah melewati laga final yang penuh tensi, drama, dan emosi melawan Maroko di Stadion Prince Moulay Abdellah, Minggu (18/1) atau Senin (19/1) pagi WIB.

Pertandingan ini terasa berbeda sejak awal karena kedua tim langsung tampil terbuka tanpa banyak perhitungan.

Maroko lebih sering menguasai bola dan menekan, namun Senegal tampil lebih efektif dalam memanfaatkan ruang. Duel fisik dan adu taktik membuat tempo pertandingan naik turun, memaksa pemain bertarung hingga batas tenaga.

Peluang demi peluang tercipta, tetapi penyelesaian akhir yang kurang tenang membuat papan skor tetap kosong hingga akhir waktu normal.

Kiper kedua tim tampil sigap, menjaga gawang mereka tetap aman hingga laga hampir berlanjut ke babak tambahan. Senegal sempat merayakan gol, tetapi wasit menganulirnya karena menilai ada pelanggaran dalam proses tersebut.

Keputusan ini memicu ketegangan di lapangan.

Situasi semakin memanas ketika Maroko justru mendapatkan hadiah penalti tak lama berselang. Keputusan itu menimbulkan protes keras dari kubu Senegal yang merasa dirugikan dalam momen krusial.

Instruksi untuk meninggalkan lapangan sempat terjadi dan membuat pertandingan terhenti cukup lama, sementara pemain terlihat terpecah dalam sikap mereka.

Sadio Mane mengambil peran penting dengan berusaha menenangkan situasi dan membujuk rekan setimnya agar kembali bertanding. Ia bahkan masuk ke ruang ganti demi memastikan tim melanjutkan pertandingan setelah penundaan panjang.

Penalti akhirnya dieksekusi di penghujung waktu normal. Brahim Diaz memilih gaya panenka yang terlalu pelan dan mudah dibaca Edouard Mendy.

Kegagalan tersebut menjadi titik balik emosional yang sangat terasa, dan waktu normal pun berakhir tanpa gol.

Memasuki babak tambahan, Senegal tampil lebih percaya diri dengan memanfaatkan kelelahan pemain Maroko.

Serangan balik cepat menjadi senjata utama yang terus merepotkan lini belakang lawan hingga akhirnya Pape Gueye melewati penjagaan dan melepaskan tembakan keras.

Bola melesat ke pojok atas gawang tanpa mampu dijangkau Yassine Bounou. Gol itu membuat bangku cadangan Senegal meledak dalam luapan kegembiraan, sementara Maroko mencoba bangkit meski kondisi lapangan diguyur hujan.

Umpan silang dan tembakan jarak jauh terus dilepaskan demi menyamakan kedudukan. Namun pertahanan Senegal tampil disiplin, rapat, dan penuh pengorbanan. Setiap serangan berhasil dipatahkan dengan blok dan tekel yang tepat waktu hingga menit akhir.

Peluit panjang akhirnya berbunyi dan mengunci kemenangan dramatis Senegal.

Gelar ini menjadi bukti konsistensi dan mental juara tim berjuluk Singa Teranga, sekaligus menambah koleksi prestasi setelah titel sebelumnya diraih beberapa tahun lalu.

Final ini akan selalu dikenang sebagai laga penuh konflik, ketegangan, dan keteguhan mental juara.

Leave a Comment