TOKOMINICON.COM – Langit Yogyakarta terasa berbeda saat malam pertama Ramadan tiba. Dua masjid bersejarah langsung dipenuhi langkah dan doa yang saling bersahutan.
Masjid Gedhe Kauman dan Masjid Jogokariyan menjadi tujuan ribuan jamaah. Sejak sebelum Isya, orang datang berkelompok bersama keluarga dan sahabat.
Di Kauman, saf meluas dari ruang utama hingga serambi. Beberapa jamaah rela duduk lebih awal agar tak kehilangan tempat.
Suasana terasa hangat sekaligus khusyuk. Tak sedikit wajah yang tampak haru karena kembali bertemu bulan suci.
Pengurus masjid memastikan tarawih dimulai mengikuti keputusan Muhammadiyah. Penetapan awal puasa mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal.
Perhitungan astronomi menunjukkan hilal telah memenuhi kriteria. Karena itu, puasa dimulai serentak sesuai ketetapan yang telah diumumkan.
Penjelasan itu disampaikan agar jamaah merasa tenang. Mereka diingatkan bahwa perbedaan metode bukan hal baru.
Warga Yogyakarta dinilai sudah dewasa menyikapi ragam pandangan. Pengalaman panjang membuat perbedaan tidak memecah kebersamaan
Di sisi lain kota, Jogokariyan juga bergelora oleh takbir. Halaman masjid berubah menjadi lautan manusia yang tersenyum.
Takmir menyiapkan program sosial sejak jauh hari. Malam itu, ratusan paket subsidi sahur langsung dibagikan.
Sebanyak 512 paket disalurkan untuk warga kurang mampu sekitar masjid. Langkah ini menjadi tradisi yang terus dijaga setiap Ramadan.
Bagi pengurus, ibadah tak hanya soal rakaat panjang. Ada kepedulian yang ingin ditanamkan sejak malam pertama.
Program buka puasa gratis pun ditambah dibanding tahun lalu. Targetnya, lebih banyak orang bisa merasakan kebersamaan saat magrib.
Kampung Ramadan kembali dihadirkan di sekitar Jogokariyan. UMKM lokal dilibatkan agar roda ekonomi tetap berputar.
Pedagang kecil mendapat ruang menjajakan aneka takjil. Jamaah pun lebih mudah mencari menu berbuka tanpa jauh melangkah.
Antusiasme ini diperkirakan terus meningkat beberapa hari ke depan. Jika cuaca cerah, halaman hingga jalan sekitar bisa ikut dipenuhi.
Pemandangan seperti itu bukan hal asing bagi warga setempat. Setiap tahun, Ramadan selalu menghadirkan energi yang sama.
Orang-orang datang bukan sekadar menjalankan kewajiban. Mereka mencari ketenangan, harapan, dan awal yang lebih baik.
Di antara saf yang rapat, doa dipanjatkan dengan sungguh. Ada harapan tentang kesehatan, rezeki, dan kedamaian negeri.
Ramadan kali ini pun dibuka dengan keyakinan kuat. Yogyakarta kembali menunjukkan wajah religius yang meneduhkan.