Tanpa Insentif, Jaecoo J5 EV Bertahan Rp 299 Juta dan Tawarkan Lock Price Rp 8 Juta

TOKOMINICON.COM – Harga Jaecoo J5 EV masih bertahan di angka Rp 299,9 juta untuk varian tertinggi. Angka itu tetap berlaku meski arah kebijakan insentif kendaraan listrik belum sepenuhnya jelas.

Di tengah dinamika regulasi, Jaecoo Indonesia memilih menjaga kepercayaan calon pembeli. Strateginya bukan sekadar janji, tetapi lewat program tambahan yang bisa dipilih konsumen.

Bagi yang ingin tenang tanpa khawatir harga berubah, tersedia opsi lock price. Program ini memberi kesempatan mengamankan banderol tetap di Rp 299,9 juta.

Caranya dengan menambah biaya Rp 8 juta sebagai pengunci harga. Langkah ini ditawarkan sebagai bentuk perlindungan dari kemungkinan penyesuaian pajak.

Jika nanti insentif dihentikan dan PPN kembali normal, harga tak ikut melonjak. Konsumen yang sudah mengambil program tersebut tetap membayar sesuai angka awal.

Head of Marketing Jaecoo Indonesia, Ilham Pratama, menjelaskan skema ini fleksibel. Ia menegaskan program tersebut bukan kewajiban, melainkan pilihan.

Artinya, pembeli bebas menentukan ingin ikut atau tidak. Namun bagi yang ingin kepastian, opsi ini dinilai cukup menguntungkan.

Jaecoo juga masih mempertahankan harga promo mulai Rp 249,9 juta. Harga itu berlaku untuk 1.000 pembeli pertama dengan status OTR Jakarta.

Penawaran tersebut membuat J5 EV masuk kategori SUV listrik terjangkau. Terlebih di tengah tren kendaraan listrik yang terus berkembang.

Situasi pasar memang sedang dinamis dan penuh perhitungan. Isu kelanjutan insentif kerap memicu diskusi luas di kalangan calon konsumen.

Sebagian memilih menunggu kepastian aturan sebelum memutuskan transaksi. Sebagian lain justru bergerak cepat agar tidak kehilangan harga terbaik.

Melihat pola itu, Jaecoo mencoba menjembatani dua kepentingan berbeda. Mereka memberi ruang aman tanpa menekan konsumen dengan aturan kaku.

Program lock price hanya berlaku bagi yang sudah membayar tanda jadi. Dengan begitu, komitmen pembelian tetap menjadi dasar utama perlindungan harga.

Jika tidak ada perubahan kebijakan, harga tetap mengikuti skema normal. Namun jika terjadi penyesuaian pajak, konsumen yang mengunci harga tetap aman.

Langkah ini dinilai sebagai strategi adaptif menghadapi ketidakpastian. Pabrikan tampak ingin menjaga momentum pasar tanpa membebani pembeli.

Di sisi lain, minat terhadap mobil listrik belum menunjukkan perlambatan berarti. Skema kredit bahkan diprediksi tetap bergerak meski insentif berkurang.

Faktor efisiensi energi dan biaya operasional masih jadi daya tarik utama. Banyak konsumen mulai melihat kendaraan listrik sebagai investasi jangka panjang.

Dengan harga di bawah Rp 300 juta, J5 EV berada di titik psikologis penting. Angka tersebut dianggap masih kompetitif di segmen SUV listrik kompak.

Kini keputusan ada di tangan calon pembeli. Menunggu kepastian atau mengamankan harga, semua kembali pada strategi masing-masing.

Leave a Comment